Mungkin, kata menguasai memiliki kesan yang kejam. Penjajahan, kesewenang-wenangan, bahkan kekerasan dalam rumah tangga bersangkutan dengan kekuasaan. Tidak perlu disangkal, kita sama-sama tahu bahwa bahasa pun turut serta dalam praktik-praktik tersebut.

Narabahasa memiliki visi yang berbunyi: Kuasai Bahasa, Kuasai Dunia. Jangan berburuk sangka. Visi ini tidak berhubungan dengan contoh-contoh yang saya sebutkan sebelumnya. Justru sebaliknya, dengan menguasai bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi, sarana untuk berekspresi, dan sebagai instrumen untuk merawat kesalingan, kita bisa menciptakan dunia yang lebih baik. 

Saya pernah membaca satu kutipan dari Nelson Mandela, yaitu “If you talk to a man in a language he understands, that goes to his head. If you talk to him in his own language, that goes to his heart.” Sebetulnya, kutipan tersebut merupakan parafrasa. Yang sebetulnya diucapkan oleh Mandela adalah:

“Because when you speak a language, English, well many people understand you, including Afrikaners, but when you speak Afrikaans, you know you go straight to their hearts.”

Pernyataan Mandela tidak terpisahkan dari pengalamannya ketika dipenjara di Pulau Robben. Di sana, Mandela mempelajari bahasa Afrikaans dalam rangka mengenal para sipir. Lebih dari itu, Mandela bahkan membaca buku-buku dan mendalami tradisi penindasnya. Lewat bahasa, Mandela memenangkan hati para sipir di penjara Pulau Robben. Beliau belajar dan menguasai bahasa untuk bernegosiasi lalu berjuang demi menggulingkan rezim apartheid.

Dari kisah Nelson Mandela, saya semakin yakin bahwa bahasa memang merupakan jendela bahkan pintu dunia. Anggaplah dunia sebagai rumah. Bekal kita untuk berpetualang ke luar adalah bahasa Indonesia. Kita yang berani membuka, mempelajari, dan menguasainya bisa semakin yakin dalam melangkah. Hal ini pernah dikatakan pula oleh Anton Moeliono, bahwa penguasaan kata dan makna mampu meningkatkan rasa percaya diri seorang pengguna bahasa. Dengan begitu, muruah bahasa serta bangsa Indonesia di dunia tidak akan diremehkan lagi. Bahkan lebih dari itu, kita bisa berkontribusi untuk membangun dunia sebagai tempat yang lebih baik, layaknya Nelson Mandela.

 

Rujukan:

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Dessy Irawan