Pada 20182019, saya bekerja pada sebuah agensi pemasaran. Klien-klien yang saya tangani datang dari beragam industri. Namun, kebanyakan dari mereka memiliki keinginan yang sama, yakni membuat konten yang bercerita. “Kami maunya yang storytelling gitu, Mas” adalah kalimat yang berulang kali saya dengar.

 

Arahan itu lama-lama jadi klise, tetapi tetap penting untuk dipenuhi. Manusia lebih cepat memahami sesuatu melalui cerita, suatu tulisan yang memikat emosi pembaca dan meninggalkan kesan mendalam. Dalam karya fiksi, corak ekspresi narasi tentu mempunyai peran yang dominan. Yang menjadi tantangan ialah ketika kita harus mengemas data-data dalam tulisan nonfiksi menjadi sajian yang bercerita.

Penceritaan data (data storytelling) merupakan salah satu cara terbaik untuk menyampaikan informasi atau pengetahuan. Dengan gaya penulisan yang bercerita, informasi tersebut dapat lebih mudah dicerna. Apabila dibumbui tampilan visual yang cantik, penceritaan data tersebut juga akan tambah menarik.

Brent Dykes (2016) berpendapat bahwa penceritaan data sering hanya dianggap sebagai visualisasi data. Padahal, menurut beliau, kekuatan narasi juga berandil dalam penceritaan data. Misalnya, data menunjukkan bahwa 70% remaja di Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental. Kita bisa menjelaskan pemerolehan data dan faktor-faktor yang memengaruhi persentase itu. Bahkan, apabila penulis menggunakan metode penelitian lapangan, kondisi wilayah peliputan dapat turut dideskripsikan sebagaimana gaya yang sering kita temui pada berita khas (feature). Kemudian, pada akhir tulisan, langkah penanganan yang perlu dilakukan untuk meredam torehan tersebut pun dapat disimpulkan.

Barulah setelah itu, visualisasi memainkan perannya. Perlu diingat, tampilan visual yang saya maksud di sini bukan cuma foto, grafik, atau diagram. Kita membutuhkan infografik yang memuat narasi-narasi penguat sehingga pembaca dapat memahami data lewat pengalaman yang berbeda.

Seorang desainer informasi (information designer) bernama Lydia Hooper (2021) menyatakan bahwa selama beberapa tahun terakhir, penceritaan data telah menjadi teknik penulisan yang penting untuk dikuasai. Data adalah basis informasi dan pengetahuan, tetapi lewat ceritalah manusia mampu memahami sesuatu secara meresap.

Lalu, apakah penceritaan data masih menjadi idaman pada tahun-tahun yang akan datang? Seperti yang dikatakan oleh Chief Economist Google Hal R. Varian pada 2009, penceritaan data merupakan keterampilan yang akan makin berkembang dan dibutuhkan pada dekade selanjutnya. Buktinya, infografik menjadi salah satu format penceritaan data yang dikagumi sampai sekarang. Saya rasa, saat ini, menggali, memahami, menarik simpulan, menggambarkan, dan menarasikan data adalah kemampuan yang diperlukan oleh para praktisi bisnis.

 

Rujukan:

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin