Apa yang terlintas dalam benak Kerabat Nara ketika mendengar mikrokopi? Tanpa disadari, hidup kita sedikit terbantu berkat mikrokopi, apalagi ketika kita cukup intensif membuka aplikasi dan situs web di ponsel pintar atau laptop. Beberapa teks yang muncul di sana, yang sering disebut sebagai penulisan antarmuka demi pengalaman pengguna (UI/UX writing), tergolong sebagai mikrokopi.

Anja Wedberg (2021) dalam tulisannya menyatakan bahwa mikrokopi adalah teks singkat yang memandu kita dalam mengakses situs web, aplikasi, dan perangkat digital lainnya. Dengan mikrokopi, kita bisa mengakses informasi, data, dan kebutuhan lainnya dengan mudah. Contoh mikrokopi yang lazim kita temui dalam situs web ialah arahan untuk memasukkan nama akun dan kata kunci. Sementara itu, dalam aplikasi, barangkali kita sudah familier dengan notifikasi Makananmu sedang diantar!

Tiga fungsi utama mikrokopi di era digital saat ini, menurut Cynthia Risse (2018), ialah mendorong pengguna untuk bertindak—entah membeli, mendaftar, atau membagikan ulang di media sosial; menginstruksikan pengguna untuk melakukan sesuatu—seperti mengisi formulir, menunggu pemuatan (loading), atau mengisi alamat surel; serta meminta pengguna untuk memberikan umpan balik. Tanpa mikrokopi, bayangkan bagaimana sulitnya kita mengakses situs web dan aplikasi.

Mikrokopi merupakan salah satu jenis teks yang tidak terhindarkan, terutama untuk masyarakat yang sehari-seharinya bergelut dengan teknologi. Dalam tulisan yang sama, Wedberg menerangkan bahwa mikrokopi sebaiknya disusun dengan jelas, ringkas, dan bermanfaat atau solutif. Tentu saja teks yang terlampau panjang, bertele-tele, dan tidak solutif akan membuang waktu pengguna. Kemudian, Risse—juga dalam tulisan yang sama—menyarankan kita untuk membuat mikrokopi dengan bahasa yang kasual, tetapi menarik dan mencerminkan karakteristik jenama. Dengan demikian, pengguna dapat berselancar dengan mudah sekaligus terpikat dengan apa yang kita tawarkan.

#mikrokopi

Rujukan:

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin