Tidak terasa, Narabahasa genap berumur satu tahun pada hari ini. Sebagai penyedia edukasi, konsultasi, publikasi, dan aplikasi kebahasaan, Narabahasa percaya bahwa dengan menguasai bahasa, kita bisa menguasai dunia. Seperti yang pernah saya tulis dalam “Menguasai Dunia dengan Bahasa?”, di sini, menguasai bermaksud untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Saya tidak akan lupa kisah hidup Nelson Mandela yang menggunakan bahasa sebagai alat pembebasan. Saya pun akan selalu mengingat ungkapan Anton Moeliono bahwa dengan menguasai bahasa (kata dan makna), manusia selaku penuturnya bisa tampil percaya diri. 

Visi Narabahasa diejawantahkan melalui dua misi utama, yakni mengungkit muruah bahasa Indonesia di dunia dan mengembangkan keterampilan bahasa bangsa Indonesia. Saya lalu bertanya kepada Bapak Ivan Lanin selaku Direktur Utama Narabahasa, mengapa muruah bahasa Indonesia di dunia harus atau perlu diungkit?

Pak Ivan menganalogikan negara-negara di dunia sebagai sekelompok teman. Ada yang dominan dan dihargai, ada pula yang menjadi pengekor.  

“Nah, bahasa merupakan salah satu ciri suatu bangsa di tengah kelompok bangsa dalam pertemanan dunia. Ketika bahasa suatu bangsa diakui dan dihargai, harkat bangsa itu juga meningkat. Bangsa itu memiliki nilai tawar yang lebih tinggi dan tidak hanya mengekor.” 

Intinya, harkat bangsa Indonesia di mata dunia dapat ikut terangkat ketika muruah bahasa Indonesia berhasil terungkit.

Saya kemudian melanjutkan pertanyaan berikutnya kepada Pak Ivan.

T: Menurut Bapak, apakah masyarakat Indonesia masih kurang terampil dalam  menggunakan bahasanya?

J: Iya. Penyebab utamanya ialah kondisi diglosia atau perbedaan ragam informal dan formal yang besar dalam bahasa kita. Kondisi ini menyebabkan masyarakat Indonesia gagap ketika menggunakan bahasa dalam ragam formal. Padahal, ragam formal diperlukan dalam berbagai banyak hal, seperti wicara publik (public speaking) dan penulisan surat dinas. Kegagapan itu antara lain tampak dalam ketidakteraturan wicara tokoh publik dalam wawancara dan kesalahan dalam tulisan formal bahasa Indonesia.

Pak Ivan menambahkan bahwa budaya unggah-ungguh juga dapat memengaruhi mutu berbahasa kita. Adalah tantangan tersendiri untuk menjaga kesantunan berbahasa lewat tuturan atau tulisan yang efektif.

Kaleidoskop Narabahasa 2020

Berangkat dari kegelisahan-kegelisahan di atas, Narabahasa lahir. Narabahasa membuka kelas publik daring pertama via WhatsApp pada 20 Maret 2020. Waktu itu, ada tiga puluh peserta yang hadir. Kelas publik daring berikutnya digelar melalui Zoom pada 27 Maret 2020. Kegiatan edukasi melalui kelas pun juga diadakan secara griya (in-house). Cakupan topik bahasan semakin meluas, mulai dari penulisan surat resmi, penulisan konten media sosial, penulisan laporan efektif, penyuntingan dasar, hingga penceritaan.

Tanpa dinyana, masyarakat menunjukkan antusiasme yang besar terhadap kegiatan-kegiatan yang disuguhkan Narabahasa. Konten-konten di media sosial disambut baik oleh mereka yang ingin masuk lebih jauh ke dalam bahasa Indonesia. Puluhan bahkan ratusan pertanyaan mengenai bahasa Indonesia dari netizen dikumpulkan. Satu per satu, Pak Ivan Lanin mencoba menjawab kemelitan warganet melalui sesi Tabah (Tanya Jawab Kebahasaan) perdana pada 14 Mei 2020. Kemudian, dalam rangka memperlebar jangkauan, Narabahasa tentu perlu mengisi berbagai lini dengan tim yang solid. Pada 1 Juli 2020, Pramubahasa (program magang di Narabahasa) resmi dibuka. 

Dari Agustus sampai November, Narabahasa semakin jaya mengepakkan sayapnya. Setelah melewati pemutakhiran, situs web kami mulai aktif. Di sini, segala aktivitas Narabahasa terpusat dan terekam. Artikel-artikel mengenai kebahasaan juga diterbitkan setiap hari dengan beragam pokok pembicaraan. Pada 2020, kira-kira sebanyak 150 artikel telah dipublikasikan. Lebih dari itu, selama 2020, Kelas Daring Narabahasa (KDNB) telah dibuka sebanyak seratus sebelas kali. Salah satu kelas bahkan sempat dihadiri oleh seratus orang peserta.

Menengok ke Depan

Bagaimanapun, peringatan ulang tahun rasanya kurang lengkap jika tidak diiringi penghayatan doa. Pada masa lalu, segala halangan adalah bukti bahwa kami sedang berproses; segala pencapaian adalah pelajaran yang patut disyukuri. Kini, saatnya kami menengok ke depan.

Pada tahun ini, Narabahasa ingin meluaskan cakupan produk dan layanan. Banyak sekali ihwal kebahasaan yang menarik untuk dikaji lebih dalam dan diangkat ke permukaan. Lebih dari itu, tentu saja, Narabahasa berharap agar penutur bahasa Indonesia dapat lebih cermat dalam memahami konteks dan kaidah bahasa Indonesia. Kita, masyarakat Indonesia, sebaiknya peduli terhadap mutu dan masa depan bahasa Indonesia.

Pada akhirnya, pada usia yang masih sangat belia ini, semoga Narabahasa mampu membawa kebahagiaan bagi bahasa Indonesia dan penuturnya.

 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Dessy Irawan