Dalam fonologi, istilah gugus fonem dan deret fonem perlu dibedakan. Gugus fonem adalah dua buah fonem berbeda yang berada di dalam silabel atau suku kata yang sama. Sementara itu, deret fonem adalah dua buah fonem berbeda yang letaknya berdampingan, tetapi berada di dalam silabel yang berbeda.

Gugus dan Deret Vokal

Gugus vokal disamakan dengan bunyi diftong, yakni bunyi yang dihasilkan ketika dua buah vokal berada pada satu silabel. Berdasarkan catatan Chaer, gugus vokal atau diftong di dalam bahasa Indonesia adalah <ai> pada samp-ai, <au> pada pu.lau, <oi> pada kon.voi, dan <ei> pada sur.vei

Sementara itu, contoh deret vokal, yaitu <au> pada la.ut, <ai> pada ka.in, <ao> pada ka.os, <oi> pada ko.in, <ia> pada ki.at, dan sebagainya. 

Gugus dan Deret Konsonan

Gugus konsonan sering disebut sebagai klaster. Contohnya, <br> pada bra.hma, <bl> pada blang.ko, <gl> pada glo.bal, <kr> pada kri.tik, <pr> pada pri.ba.di, dan sebagainya. 

Kemudian, contoh perwujudan deret konsonan dalam bahasa Indonesia, yaitu  <bd> pada sab.da, <bl> pada kib.lat, <hb> pada tah.bis, <rn> pada sir.na, dan sebagainya.

Tentu saja, gugus dan deret fonem dapat menjadi ciri pembeda pada setiap bahasa. Faktor fonologis ini dapat menjadi bahan pertimbangan pemadanan dan pemendekan sebuah kata. Lebih dari itu, gugus dan deret fonem berkaitan dengan fonotaktik, yakni urutan fonem yang dimungkinkan dalam suatu bahasa (Kamus Linguistik Edisi Keempat). Dari pola fonotaktik, kita bisa mendalami ciri fonologis kata-kata dalam bahasa Indonesia secara lebih mendalam. 

 

Rujukan:

  • Chaer, Abdul. 2013. Fonologi Bahasa Indonesia, Jakarta: Rineka Cipta.
  • Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Dessy Irawan