Penulisan karya ilmiah, khususnya disertasi, menghadirkan sejumlah tantangan, mulai dari penentuan topik, perumusan kerangka, hingga pemformatan. Tidak hanya itu, sisi kebahasaan juga kerap menjadi momok bagi para penulisnya. Mereka waswas apakah bahasa yang digunakan sudah sesuai dengan kaidah atau belum. Sebabnya, secara langsung, tata bahasa yang baik dapat meningkatkan kualitas disertasi. Oleh karena itulah Himpunan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Akuntansi (Hima PDIA), Universitas Airlangga (UNAIR), menggandeng Narabahasa untuk menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Penulisan Karya Ilmiah dan Disertasi”.

Pelatihan yang diadakan selama 3 hari itu, yakni 21–23 Juli 2022, diadakan secara daring melalui Zoom mulai pukul 08.30 hingga 11.30 WIB. Di sana, Felicia Nuradi Utorodewo (Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia) dan Ivan Lanin (Direktur Utama Narabahasa) berbagi tugas sebagai widyaiswara.

Hari Pertama: Penulisan Karya Ilmiah dan Disertasi

Pada pertemuan perdana ini, materi dibagi menjadi tiga bagian, yaitu karakteristik karya ilmiah, prapenulisan dan penulisan draf disertasi, serta pemformatan disertasi. Bagian pertama diajarkan oleh Ivan, sedangkan bagian kedua dan ketiga disampaikan oleh Felicia.

Bagian pertama berisi hakikat, format, dan syarat karya ilmiah, serta jenis karya tulis ilmiah kesarjanaan. Ketika menjelaskan format, Ivan berkata, “Kalau kita lihat, sistematika sebuah wacana, apa pun itu, selalu terdiri atas tiga bagian: pembuka, isi, dan penutup.” Ia menunjukkan bahwa format karya ilmiah pun begitu. Judul, nama penulis, abstrak, dan kata kunci adalah pembuka. Pendahuluan, teori, metode, hasil, pembahasan, simpulan, dan usulan adalah isi. Sementara itu, ucapan terima kasih dan daftar pustaka adalah penutup.

Pada bagian selanjutnya (kedua dan ketiga), Cis–sapaan Felicia–memaparkan tahap penulisan disertasi yang terdiri atas penentuan topik, hubungan tujuan dan jenis wacana, perumusan kalimat tesis, penyusunan kerangka, kesatuan dan kepaduan, analisis data penelitian, serta penyusunan tiap bagian.

Seusai pemaparan, Cis menerima beberapa pertanyaan. Salah satunya disampaikan oleh Mirza Maulinahardi. Ia bertanya mengenai penelitian terdahulu yang akan digunakan. Cis menjawab, “Kalau memang penelitian itu sudah pernah dilakukan dan kemudian ada penelitian-penelitian terbaru yang juga merujuk pada penelitian tersebut, penelitian tersebut tidak perlu diulas tuntas.” Ia kemudian melanjutkan bahwa jika sebuah penelitian dianggap sebagai landasan teori, penelitian itu dimasukkan ke kerangka konseptual.

Hari Kedua: Gramatika dan Ejaan

Materi pertemuan kedua ini dijelaskan oleh Ivan. Dalam 3 jam, ia menjelaskan kelengkapan wacana, keutuhan paragraf, keefektifan kalimat, pemilihan kata, dan ketertiban ejaan. Wacana dan paragraf dijelaskannya pada bagian pertama, kalimat dan kata pada bagian kedua, serta ejaan pada bagian terakhir.

Dalam pemaparan wacana, Ivan menekankan bahwa pembuatan suatu bentuk tulis atau lisan harus memperhatikan lima aspek, yaitu tujuan, bahan, struktur, media, dan format. Sementara, ketika menjelaskan paragraf, wikipediawan pencinta bahasa Indonesia itu membedah aspek kesatuan, kepaduan, ketuntasan, keruntutan, dan konsistensi. Pada bahasan kepaduan, misalnya, Ivan menyampaikan bahwa aspek itu bisa dibentuk dengan menggunakan beberapa elemen, seperti konjungsi dan substitusi.

Kemudian, pada bagian kalimat, Ivan menyoroti lima aspek keefektifan kalimat, yaitu kejelasan, ketepatan, kelugasan, kehematan, dan kesejajaran. Kelimanya diterangkan dengan contoh-contoh kesalahan kalimat  agar peserta makin mudah memahami materi.

Hal tersebut ia lanjutkan dengan membahas kelas, pembentukan, dan pemilihan kata. Pembahasan seputar kata ini penting karena berhubungan dengan kalimat. Ivan menyatakan, “Tujuannya [mempelajari kata] sebenarnya agar kita bisa membuat kalimat dengan pemilihan kata yang baik: tepat, serasi, dan cermat.”

Selanjutnya, Ivan menjelaskan bahasan pemungkas, yakni ejaan–yang mencakup penulisan huruf, kata, dan tanda baca. Menurutnya, ejaan merupakan konvensi yang bertujuan membuat tulisan menjadi lebih rapi.

Sebelum berakhir, Ranto Partomuan Sihombing dari Hima PDIA UNAIR menyampaikan kepada peserta lain bahwa akan ada bedah contoh pada hari ketiga. Oleh karena itu, peserta diharap mengumpulkan draf tulisan yang dimiliki untuk dibedah dan diberi masukan oleh Felicia dan Ivan.

Hari Ketiga: Bedah Contoh

Ivan dan Felicia membedah enam dari dua belas draf tulisan yang sudah terkumpul. Mereka menyelisik secara mendalam tulisan-tulisan itu berdasarkan struktur dan kebahasaannya.

Di bagian akhir, Ivan memberi simpulan bahwa ketertiban berpikir perlu dikembangkan. “Dari membaca, kita tidak hanya mengumpulkan potongan-potongan kalimat, tetapi juga harus berpikir benang merahnya. Ini kemudian menjadi inti paragraf yang kita susun.” Selepas itu, Felicia menambahkan bahwa peserta juga harus rajin melaporkan progres pengerjaan disertasi kepada pembimbing. Ia juga berpesan bahwa peserta mesti menguasai data yang mereka miliki dalam penelitian agar membuahkan hasil yang maksimal.

 

Penulis: Harrits Rizqi

Penyunting: Dessy Irawan