> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Lisan Episode Ke-38: Bermain Kata bersama Ambiguitas Makna dalam Bahasa Indonesia
- URL: https://narabahasa.id/berita/lisan-episode-ke-38-bermain-kata-bersama-ambiguitas-makna-dalam-bahasa-indonesia/
- Published: 2026-10-06T02:03:21.000Z
- Updated: 2026-10-06T02:03:21.000Z
- Author: Narabahasa
- Tags: berita, #local, #Import 2026-10-23 19:03

Narabahasa pada September ini kembali menyelenggarakan Selisik Kebahasaan (Lisan) episode ke-38 yang bertajuk “Semantik: Ambiguitas Makna dalam Bahasa Indonesia”. Kali ini, Narabahasa mengundang Nuny Suliastiany Idris, dosen sekaligus peneliti linguistik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sebagai narasumber. Lisan dilaksanakan pada Jumat, 28 Agustus 2026, pukul 19.00 s.d. 20.30 WIB secara daring melalui Zoom dan siaran langsung YouTube Narabahasa. 

Edisi bulan ini berfokus pada fenomena ambiguitas yang kerap dialami oleh masyarakat bahasa ketika berkomunikasi, baik secara lisan maupun tertulis, yang dikaitkan dengan ilmu semantik. Acara dibuka oleh Ivan Lanin selaku moderator dengan menyambut peserta dan Nuny Sulistiany sebagai narasumber. Sebelum sesi pemaparan dimulai, Ivan menjelaskan selayang pandang program Lisan dan profil singkat narasumber terlebih dahulu kepada peserta. 

Berikutnya, Lisan beralih pada sesi pemaparan materi. Materi yang disajikan dipetakan menjadi empat bagian besar, yakni konsep ambiguitas, jenis ambiguitas, contoh fenomena ambiguitas, dan penyelamat dari ambiguitas. Sebelum menjelaskan materi, Nuny menyampaikan keutamaan mengasah bahasa Indonesia yang harus ditingkatkan secara bertahap oleh penutur bahasa Indonesia.

“Kemarin, saya mendapatkan informasi dari Badan Bahasa bahwa saat ini bahasa Indonesia diajarkan di 60 negara. Untuk itu, belajar tentang ambiguitas cukup penting menurut saya sebagai pengajar, terutama bagi pemelajar asing,” ucapnya. 

Sesi pemaparan materi berlangsung cukup interaktif karena Nuny tak hanya menjelaskan materi, tetapi juga melibatkan peserta untuk menanggapi setiap contoh tuturan yang bermakna ganda. Beragam komentar dari peserta secara bertahap muncul di ruang obrolan, salah satunya tentang permainan kata-kata pada puisi Joko Pinurbo yang berjudul *Kamus Kecil*, sehingga pembahasan tak hanya berputar pada ambiguitas, tetapi juga metatesis dan anagram.

Pembahasan kemudian berlanjut ke bagian terakhir materi, yakni tantangan ambiguitas pada pemelajar program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA). Nuny mengatakan saat ini beliau lebih sering menghadapi penutur asing yang kerap ‘tersesat’ ketika memaknai tuturan bahasa Indonesia. “Tiga faktor utama penyebab penutur asing kerap ‘tersesat’ memaknai tuturan, yakni karena keterkaitan konteks yang tinggi, minimnya penanda khusus dalam bahasa Indonesia, dan sistem imbuhan yang rumit,” tuturnya.

Setelah sesi pemaparan selesai, Nuny mengajak Ivan untuk membedah makna dari satu kalimat yang ditampilkan dalam salindia. Kalimat tersebut berbunyi “*Anak dokter yang gemuk itu sedang bermain di taman*”. Ivan mengatakan bahwa makna yang terselubung dalam kalimat itu adalah “*Yang gemuk adalah anak dokter*”.

Kemudian, Lisan dilanjutkan dengan tanya jawab. Pertanyaan yang diajukan cukup beragam, salah satunya tentang mengapa kata benda *kaca* bisa berubah menjadi kata kerja, seperti pada “*Seharusnya kamu* ***berkaca*** *pada dirimu sendiri*”. Nuny menjawab pertanyaan tersebut dengan mengaitkannya pada konsep transposisi kata benda menjadi kata kerja. Pertanyaan lainnya berkaitan dengan komunikasi media sosial yang lebih bertumpu pada konteks, padanan kata yang memengaruhi makna, dan masih banyak lagi.

Lisan episode ini ditutup dengan pantun penutup dari narasumber dan berfoto bersama melalui tangkapan layar bersama 67 peserta. Melalui pembahasan fenomena ambiguitas makna dalam bahasa Indonesia ini, Narabahasa berharap peserta dapat makin memahami fenomena ambiguitas, jenis ambiguitas, dan strategi meningkatkan kecermatan dalam memaknai tuturan sesuai dengan konteks komunikasi. 

Penulis: Jovita Dwi Swistika Murti

Penyunting: Rifka Az-zahra