Sebagai tenaga pendidik di perguruan tinggi, berbagi ilmu dan menyebarkan pengetahuan tentu menjadi tanggung jawab dosen yang dilakukan setiap waktu. Dalam proses tersebut, tata bahasa merupakan hal esensial yang harus dikuasai karena turut menentukan kualitas publikasi tulisannya. Keahlian seorang dosen bisa saja dipertanyakan jika belum mampu menerapkan tata bahasa Indonesia yang tepat dalam menulis laporan kegiatan dan hasil penelitian ilmiah. Dengan begitu, penting bagi para pengajar untuk meningkatkan kompetensi tata bahasanya, terutama bahasa tulis yang mencakup keutuhan teks, struktur kalimat, hingga ejaan. 

Upaya untuk mendalami tata bahasa Indonesia di lingkup akademik telah dilakukan oleh pengajar Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI) dalam lokakarya pada 6 November 2023 lalu. Acara yang digelar bersama Narabahasa ini diikuti dengan baik oleh para dosen karena topik yang diangkat relevan dengan permasalahan mereka, yakni bagaimana cara membuat pembaca awam tertarik dengan tulisan ilmiah.

Guna membantu memecahkan masalah tersebut, widyaiswara lokakarya ini, Innezdhe Ayang Marhaeni, menyampaikan materi tentang penulisan karya ilmiah sesuai tata bahasa yang tepat agar memenuhi standar publikasi di media massa dan menjadi rujukan yang kredibel bagi penulis lain. Staf Humas Vokasi UI yang bertanggung jawab atas pengolahan tulisan turut menyimak pemaparan Innez. Harapannya, staf Humas dan dosen bersinergi untuk mendistribusikan tulisan-tulisan tersebut pada media-media potensial tanpa melalui proses diskusi dan revisi yang panjang.

Lebih lanjut, Domu D. Ambarita, narasumber dari Tribun Network, berkesempatan memberikan wawasan tentang format media massa dan kriteria artikel berita yang umumnya dimuat. Sesi ini berfokus pada penulisan artikel ilmiah populer, yang mana penerapannya tidak hanya mengulas struktur dan alur pikir, tetapi juga cara mengemas tulisan agar menarik dan mudah dimengerti. 

Beberapa peserta lokakarya mengemukakan kendalanya dalam mengemas tulisan ilmiah ke bentuk populer. Bagi mereka, masalah yang dihadapi umumnya terletak pada kurang umumnya isu yang diangkat, serta kesulitan menemukan sudut pandang yang tepat dalam menceritakan suatu hal yang dianggap kurang punya manfaat langsung bagi masyarakat. Dalam hal ini, Innez menekankan pentingnya kepekaan penulis untuk menentukan sudut pandang di samping menguasai teknis kebahasaan. 

 

Penulis: Sabrina Araminta

Penyunting: Rifka Az-zahra