> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Kelas Daring Publik Spesial Oktober: Sudahkah Kita Mengenali Diri Lewat Jurnal Harian?
- URL: https://narabahasa.id/berita/kelas-daring-publik-spesial-oktober-sudahkah-kita-mengenali-diri-lewat-jurnal-harian/
- Published: 2026-10-29T07:19:50.000Z
- Updated: 2026-10-29T07:19:50.000Z
- Author: Jovita Dwi Swistika Murti
- Tags: berita

Masih dalam semarak perayaan Bulan Bahasa dan Sastra, Narabahasa melaksanakan Kelas Daring Publik (KDP) bertajuk “Menulis Jurnal untuk Mengenali Diri” sebagai penutup rangkaian kelas spesial Oktober. Kelas ini dilaksanakan pada Selasa, 27 Oktober 2026, pukul 19.00 s.d. 21.00 WIB secara daring melalui Zoom. KDP yang menghadirkan Ivan Lanin sebagai pengajar ini diikuti oleh 12 peserta. 

Kelas dibuka oleh Nazwa Aulia sebagai moderator dengan memperkenalkan profil Ivan Lanin sekaligus memperkenankan Ivan untuk menjelaskan gambaran kelas dua jam ke depan. “Materi yang saya bawakan malam ini akan terbagi menjadi tiga fokus utama, yakni memahami jurnal; cara mencatat peristiwa, perasaan, dan pemikiran; serta langkah efektif membiasakan diri menulis,” jelas Ivan. Untuk itu, ia memetakan tiga bagian fokus tersebut menjadi memahami, mencatat, dan membiasakan. 

Selanjutnya, kelas beralih pada agenda utama, yaitu pemaparan materi oleh Ivan. Materi yang disajikan oleh Ivan lebih banyak diisi dengan pertanyaan pemantik untuk peserta agar mereka terdorong untuk menulis jurnal harian. Ivan mengawali sesi pemaparan dengan mengajak peserta mengulas kembali aktivitas yang mereka alami sehari sebelum kelas berlangsung, seperti percakapan, perasaan, maupun gagasan yang mereka pikirkan. Dari pertanyaan tersebut, Ivan memperkenalkan jurnal sebagai catatan pribadi yang disusun secara konsisten untuk merekam aktivitas, perasaan, pikiran, dan pengalaman penulisnya. 

“Anggapan bahwa menulis jurnal ialah kegiatan performatif yang memerlukan kemampuan sebagai penulis profesional tidak sepenuhnya benar. Sebab, jurnal dapat ditulis dalam beragam bentuk, mulai dari catatan kegiatan harian, jurnal perasaan, jurnal syukur, hingga surat untuk diri sendiri,” ujar Ivan. 

Ivan juga menegaskan bahwa hal yang terpenting dalam menulis jurnal justru berwujud kejujuran, keteraturan, dan kesediaan untuk menulis bagi diri sendiri. “Melalui aktivitas yang teratur tersebut, seseorang dapat mengenali pola pikir dan perasaan, mengelola emosi, serta merapikan gagasan yang semula kusut menjadi runtut karena pikiran tenang,” jelasnya. 

Berikutnya, Ivan mengajak peserta untuk menulis jurnal lewat pengamatan terhadap hal-hal yang terlihat, terdengar, tercium, terasa, dan terpikirkan yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk tulisan. “Kita dapat memulainya dengan menggunakan enam pertanyaan dasar, yakni apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana,” ucapnya. Untuk itu, pengalaman sederhana dapat lebih bermakna lewat penggambaran yang terperinci. 

Selain mencatat peristiwa, Ivan juga menekankan pentingnya mengenali diri sendiri melalui perasaan dengan pilihan kata yang tepat. Pada sesi ini, peserta diajak untuk tidak berhenti pada ungkapan umum, seperti *capek*, *lelah*, *bosan*, *tidak nyaman*, dan *baper*, tetapi berusaha menggali perasaan yang dalam dan spesifik, seperti *jenuh*, *kecewa*, *dilema*, atau *cemas*. “Makin tepat seseorang mengenali kondisi perasaannya, makin mudah pula ia memahami apa yang sedang dialami dan apa yang harus ia lakukan,” pungkas Ivan. 

Lebih lanjut, Ivan memperkenalkan kerangka “Momen, Reaksi, Makna” yang dapat digunakan agar bisa menulis secara bertahap. Untuk menerapkan kerangka tersebut, Ivan memberi tantangan berupa dua latihan menulis kepada peserta. Latihan pertama berupa menulis bebas selama sepuluh menit tanpa berhenti untuk menyunting tulisan. Berikutnya, peserta diminta menyusun satu kejadian yang dialami pada hari tersebut melalui tiga tahap, yaitu momen, reaksi, dan makna, yang masing-masing diberi waktu tiga menit. 

Sebagai penutup, Ivan membagikan strategi untuk terbiasa menulis jurnal. Ia mengajak peserta memulai dari langkah sederhana, yakni menulis tiga kalimat setiap hari. Selain itu, Ivan juga mengajak peserta merenungkan satu pertanyaan: “*Jika catatan hari ini dibaca setahun lagi, apa yang ingin ditemukan di dalamnya?*”

![](https://narabahasa.id/content/images/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-29-at-14.16.37.jpeg)

Kelas ditutup dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh moderator. Lewat penyelenggaraan kelas ini, Ivan menyampaikan satu pesan penting untuk peserta. “Jurnal tidak harus dimulai dengan tulisan panjang atau pengalaman luar biasa. Catatan sederhana yang ditulis secara rutin dapat menjadi sarana untuk merekam pengalaman, memahami perasaan, dan mengenali diri sendiri dengan lebih baik,” tuturnya. Selanjutnya, Nazwa Aulia menutup kelas ini dengan sesi dokumentasi. 

Penulis : Jovita Dwi Swistika Murti

Penyunting : Rifka Az-zahra