> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Kelas Daring Publik: Mengubah Pengalaman yang Membekas Menjadi Cerita yang Berkualitas
- URL: https://narabahasa.id/berita/kelas-daring-publik-mengubah-pengalaman-yang-membekas-menjadi-cerita-yang-berkualitas/
- Published: 2026-10-06T02:13:32.000Z
- Updated: 2026-10-06T02:13:32.000Z
- Author: Narabahasa
- Tags: berita, #local, #Import 2026-10-23 19:03

Pada pekan awal Oktober ini, Narabahasa menyelenggarakan Kelas Daring Publik (KDP) yang bertajuk “Menulis Cerita dengan Fondasi yang Kuat”. KDP kali ini kembali mengundang Rza Kumar sebagai pengajar yang juga pernah mengisi kelas dengan judul yang serupa pada 2025 lalu. Kelas ini dilaksanakan pada Sabtu, 3 Oktober 2026, pukul 09.00 s.d. 11.00 WIB secara daring melalui Zoom. Materi yang dibahas berjudul *2 Jam Kreatif* yang dibawakan secara interaktif antara peserta dan pengajar. 

Kelas dibuka oleh Nazwa Aulia sebagai moderator dengan memperkenalkan profil Rza Kumar sekaligus mempersilakan Rza untuk menjelaskan gambaran kelas dua jam ke depan. “Hari ini kita akan membahas tiga materi utama, yakni cara membangkitkan cerita, cara mengembangkan cerita, dan teknik menulis cerita. Terkadang, kita sudah memiliki banyak cerita dari perjalanan hidup, tetapi tidak semua layak untuk dikembangkan menjadi sebuah cerita yang utuh,” jelas Rza. 

Selain itu, Nazwa juga memantik peserta dengan bertanya tentang alasan dan harapan mereka mengikuti kelas ini. Siti Hafidzoh, salah satu peserta mengungkapkan bahwa dirinya kerap menulis cerpen, tetapi masih kesulitan untuk menuntaskan draf novelnya. “Untuk itu, saya mengikuti kelas ini dengan harapan hari ini saya mampu melanjutkan draf novel lewat teknik menulis cerita dari Narabahasa,” ungkapnya. 

Selanjutnya, kelas beralih pada agenda utama, yaitu pemaparan materi oleh Rza. Materi yang disajikan oleh Rza lebih banyak diisi dengan pertanyaan pemantik untuk peserta agar mereka dapat terpancing membuat satu gagasan cerita. Rza mengawali sesi pemaparan dengan berbagi pengalamannya dalam membuat cerita yang menarik dan bernilai. “Bagi saya, menulis cerita yang baik justru hadir dari insiden yang begitu membekas dalam hidup. Biasanya banyak yang berangkat dari insiden patah hati sehingga cerita dapat mengubah patah hati menjadi royalti,” ucap Rza. 

Rza juga mengungkap bahwa kesulitan dalam menulis cerita justru terjadi karena terlalu banyak cerita yang mengepul dalam kepala kita. Dalam hal ini, Rza membagikan cerita patah hatinya ketika pindah rumah. “Patah hati terbesar saya adalah pindah rumah ketika saya mulai beranjak dewasa dan harus melepas semua memori masa kecil di rumah itu. Untuk menyembuhkan luka, akhirnya saya menulis cerpen tentang rumah yang bukan sekadar bangunan, melainkan juga tempat untuk pulang,” tuturnya. 

Berikutnya, Rza memancing sekaligus menantang peserta untuk menceritakan insiden patah hati terbesar, meminta peserta mengembangkan satu gagasan cerita, hingga menentukan yang mana cerita dan yang mana insiden. Rza juga mengungkapkan bahwa dalam memilah banyak cerita yang layak untuk ditulis, peserta dapat merumuskan tiga pertanyaan terlebih dahulu. “Memilih cerita yang layak untuk dibangkitkan bisa melalui tiga pertanyaan: Apa ceritanya? Bagaimana cara menceritakannya? Pelajaran hidup apa yang ingin kamu berikan untuk pembaca?” jelas Rza. 

Lebih lanjut, Rza juga menjelaskan berbagai format dalam menulis cerita yang tidak hanya berupa tulisan karya sastra, tetapi juga bisa berupa status atau konten media sosial. “Satu hal yang harus ditentukan sebelum menulis adalah format apa yang kamu pilih untuk menuangkan cerita tersebut. Sebab, cerita yang baik adalah cerita yang dapat memikat pendengar atau pembaca untuk bercerita juga,” ungkap Rza. 

Selain membagikan strategi dalam menentukan cerita yang layak, Rza juga mengungkapkan bahwa argumen cerita merupakan tulang punggung dalam mengembangkan cerita. Ia juga mengajak peserta untuk mengubah cerita menjadi premis berbasis argumen dengan rumus “karakter + keyakinan + alasan”. Rumus tersebut kerap diterapkan Rza dalam membuat cerita agar memiliki nilai jual, terutama untuk konten media sosial. Sementara itu, untuk membuat premis karya novel, film, dan cerpen, bisa menggunakan rumus “karakter + tujuan + halangan”. Selanjutnya, Rza meminta peserta untuk membuat premis dari cerita yang sudah mereka miliki sekaligus membedahnya dengan memetakan format apa yang sesuai. 

Sebagai penutup, Rza menjelaskan tentang bagian tubuh cerita yang terbagi menjadi tiga bagian utama, yakni *ACT 1* yang berisi *inciting incident*, *ACT 2* yang berupa *midpoint* sampai *lowest point*, dan terakhir *ACT 3* yang berisi *twist*. 

Kelas ditutup dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh moderator. Lewat pelaksanaan kelas ini, Rza menyampaikan satu pesan penting untuk peserta. “Cerita adalah cara manusia mengingat memori dengan lebih panjang. Pengalaman yang mungkin terlupakan dapat hidup kembali melalui tokoh, konflik, dan rangkaian peristiwa yang dirangkai menjadi cerita,” ucapnya. Selanjutnya, Nazwa menutup kelas ini dengan sesi dokumentasi. 

Penulis : Jovita Dwi Swistika Murti

Penyunting : Rifka Az-zahra