> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Ivan Lanin Jembatani Kekayaan Bahasa dan Budaya dalam Ubud Writers & Readers Festival 2026
- URL: https://narabahasa.id/berita/ivan-lanin-jembatani-kekayaan-bahasa-dan-budaya-dalam-ubud-writers-readers-festival-2026/
- Published: 2026-10-30T06:10:06.000Z
- Updated: 2026-10-30T06:10:06.000Z
- Author: Jovita Dwi Swistika Murti
- Tags: berita

Dalam rangka merayakan “Lebaran” bahasa dan sastra, Yayasan Mudra Swari Saraswati kembali menggelar Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) pada 21 s.d. 25 Oktober 2026 di Ubud, Bali, Indonesia. UWRF sebagai salah satu festival sastra terbesar di Asia Tenggara ini mempertemukan ratusan penulis, seniman, jurnalis, pemikir, dan penyair dari Indonesia hingga mancanegara setiap tahun. Tahun ini, UWRF bertajuk “*Samarasā: Awareness, Empathy, Action*” dengan menghadirkan lebih dari 150 penulis dan 200 program, termasuk diskusi, peluncuran 49 buku, pemutaran film, pementasan teater, lokakarya, dan berbagai kegiatan lainnya yang terbuka bagi masyarakat. 

**Menelusuri Cerita di Balik Makna Kata Sederhana**

Ivan Lanin menjadi salah satu penulis yang diundang kembali oleh UWRF setelah sebelumnya pernah mengisi sesi diskusi *The Pledge* pada UWRF 2018\. Kali ini, Ivan hadir sebagai narasumber dalam sesi diskusi berjudul *Why We Say the Things We Say* yang digelar pada Kamis, 22 Oktober 2026, pukul 10.15 s.d. 11.15 WIB, di Indus Restaurant, Bali. Sesi ini juga menghadirkan pembicara lainnya, yakni Sumanto Chattopadhyay, penulis asal India yang terkenal sebagai *The English Nut*. Diskusi yang dipandu oleh Cassie Lawrence ini membicarakan asal-usul kata dan alasan orang memilih ungkapan tertentu dalam komunikasi sehari-hari. 

Ketika diskusi dimulai, antusiasme peserta terlihat dari banyaknya mereka yang hadir menempati kursi yang telah disediakan. Sesi diskusi berlangsung dalam bahasa Inggris karena mayoritas dihadiri oleh penutur asing. Beberapa peserta dari Indonesia rata-rata memanggil Ivan dengan sapaan “Uda”. “Terasa lucu ketika mendengar sapaan asal Minang itu menyelinap pada forum internasional,” komentar Ivan. 

Dalam diskusi tersebut, Ivan menyampaikan materi yang berjudul *Small Words, Long Stories*. Ivan mengungkap bahwa ketertarikannya terhadap bahasa berawal dari bidang teknik, penyusunan kamus, Wikipedia, penyuntingan, dan penerjemahan. “Dari sana, akhirnya saya menyadari bahwa pilihan kata yang tampak sederhana ternyata mampu memengaruhi cara seseorang menyampaikan maksud dan membangun hubungan dengan orang lain,” jelasnya. Lebih lanjut, Ivan mencontohkan fenomena itu lewat perkembangan penggunaan kata *permisi* dan *kakak* yang mengalami perubahan kebiasaan pengucapan dalam hubungan sosial masyarakat. 

Ivan juga turut menyoroti cerita asal-usul kata populer yang tidak selalu benar. Misalnya, anggapan bahwa *perkedel* merupakan akronim dari *persatuan kentang dan telur*. Padahal, kata tersebut berasal dari bahasa Belanda, yakni *frikadel* atau *frikandel.* “Cerita seperti itu menjadi menarik karena bukan hanya menunjukkan ketepatan asal-usul katanya, melainkan bagaimana orang berusaha memberi makna pada kata-kata yang mereka gunakan,” tutur Ivan. 

**Berbagi Kisah tentang Perjalanan**

![](https://narabahasa.id/content/images/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-29-at-14.41.36--1-.jpeg)

**Fire & Islands*, Dharma Kula, Bali, Jumat (23/10/2016).

Pada Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 18.00 s.d. 20.00 WIB, Ivan kembali terlibat menjadi tamu undangan dalam rangkaian kegiatan sastra melalui *Fire & Islands*, jamuan makan malam yang disertai pembacaan cerita oleh tujuh penulis di Nari Restaurant, Bali. Acara yang dipandu oleh Thammika Songkaeo, penulis asal Thailand ini memberikan kesempatan kepada setiap penulis untuk membacakan karyanya selama tiga menit, lalu menjawab pertanyaan dari moderator dan tamu undangan lainnya. 

Dalam acara tersebut, Ivan membacakan naskah berjudul *Arriving as a Beginner* yang berisi rangkuman perjalanan hidupnya sejak meninggalkan Jakarta untuk bersekolah Bandung pada 1986 hingga dinamika kariernya ketika merambah ke dunia kebahasaan melalui Narabahasa. Dalam naskahnya, Ivan memanfaatkan metafora berupa pulau dalam menyebutkan berbagai tempat, bahasa, dan bidang pekerjaan yang pernah digelutinya. “Perjalanan hidup ini merupakan proses belajar yang terus berlangsung, termasuk ketika seseorang harus memulai kembali sebagai pemula pada bidang yang baru saja ia geluti,” ucapnya. 

**Mengenalkan Bahasa Indonesia Lewat Budaya Sehari-hari**

![](https://narabahasa.id/content/images/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-28-at-14.04.27-1.jpeg)

Lokakarya **Bahasa Indonesia Breakfast,* Dharma Kula, Bali, Sabtu (24/10/2026).

Keterlibatan Ivan dalam rangkaian acara UWRF 2026 tak hanya berhenti pada ruang diskusi saja. Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, pukul 07.30 s.d. 09.30 WIB, ia berkolaborasi dengan tim Cinta Bahasa, sekolah Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Ubud melalui lokakarya *Bahasa Indonesia Breakfast* di Dharma Kula, Bali. Lokakarya yang dibuka oleh Maryon Renaldy Fernandus sebagai pewara sekaligus didampingi oleh Bli Gusde ini diikuti oleh empat peserta, yakni Danika, Grace, dan Helen dari Australia, serta Audrey dari Belanda. 

![](https://narabahasa.id/content/images/2026/10/WhatsApp-Image-2026-10-28-at-14.04.27.jpeg)

Foto bersama dalam Lokakarya **Bahasa Indonesia Breakfast,* Dharma Kula, Bali, Sabtu (24/10/2026).

Lokakarya yang mengusung tema *Everyday Words, Everyday Culture* ini mengajak peserta mengenal bahasa Indonesia lebih dekat melalui budaya komunikasi sehari-hari. Materinya meliputi pelafalan, pola kalimat sederhana, sapaan, ungkapan kesantunan, komunikasi informal, hingga kalimat sederhana ketika memesan makanan, berbelanja, dan mencari arah di Ubud. Dalam hal ini, Ivan menekankan pentingnya memahami konteks sosial di balik ungkapan. 

Misalnya, kata *tolong, silakan, maaf, permisi,* dan *terima kasih* memiliki fungsi dengan situasi yang berbeda. Begitu juga dengan sapaan, seperti *pak, bu, kak, mbak, mas, bude, pakde, bli,* dan *gek* yang menunjukkan cara penutur memosisikan diri dengan lawan tutur. Ivan mengungkap bahwa mempelajari bahasa Indonesia tak cukup hanya dengan mengetahui tata bahasanya. Pemahaman kesantunan berbahasa, nada bicara, dan kebiasaan komunikasi masyarakat setempat juga dinilai penting. 

Melalui keterlibatannya dalam UWRF 2026, Ivan mampu membuktikan bahwa bahasa dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal sekaligus merekam pengalaman hidup yang beragam. Selaras dengan semangat mengangkat kesadaran, empati, dan tindakan, perjumpaannya dengan para penulis, pembaca, dan pemelajar bahasa menjadi simbol bahwa bahasa tidak hanya digunakan untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga membuka jalan untuk mengenal dunia lebih luas lewat pengalaman orang lain. 

Penulis: Jovita Dwi Swistika Murti

Penyunting: Rifka Az-zahra