> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Hadiri Peringatan Hari Sumpah Pemuda BRIN, Ivan Lanin Gali Peran Bahasa Indonesia di Ruang Digital
- URL: https://narabahasa.id/berita/hadiri-peringatan-hari-sumpah-pemuda-brin-ivan-lanin-gali-peran-bahasa-indonesia-di-ruang-digital/
- Published: 2026-11-03T08:42:41.000Z
- Updated: 2026-11-03T08:42:41.000Z
- Author: Jovita Dwi Swistika Murti
- Tags: berita, 2026

Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengundang Narabahasa sebagai narasumber dalam Webinar Seri Ke-89 yang bertajuk “Dari Sumpah Pemuda ke Ruang Digital: Penguatan Ekosistem Bahasa dan Sastra Indonesia di Era Digital”. Webinar yang dipandu oleh Anis Rahmawati sebagai moderator ini berlangsung pada Rabu, 28 Oktober 2026, pukul 09.00 s.d. 12.00 WIB secara daring melalui Zoom. Webinar ini dibawakan oleh Prima Hariyanto sebagai pembawa acara yang diikuti oleh 300 peserta.

Webinar yang mengangkat semangat Sumpah Pemuda ini dibuka secara resmi oleh Herry Yogaswara selaku Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN. Pada kesempatan ini, BRIN menghadirkan tiga narasumber lainnya, yakni Suyadi dan Dewi Ambarwati dari Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN, serta Leon Woltermann, mahasiswa program doktor di National University of Singapore (NUS).

![](https://narabahasa.id/content/images/2026/11/image-1.png)

Ivan mendapat giliran pertama untuk menyampaikan gagasannya melalui materi yang berjudul “Bahasa Indonesia di Media Sosial: Menyatukan, Menjangkau, dan Menggerakkan”. Pada awal pemaparan, Ivan mengungkap bahwa tiga kata kerja tersebut ia pilih untuk menggambarkan peran bahasa Indonesia dalam komunikasi digital masyarakat, terutama di media sosial. “Inti dari gagasan saya sebetulnya ingin menegaskan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa yang menyatukan tanpa \[menjadi\] menyeragamkan,” ungkapnya.

**Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan**

Ivan memulai pemaparannya dengan mengajak peserta kembali mengulas ikrar Sumpah Pemuda, khususnya pada konteks bahasa persatuan. “Para pemuda saat itu menyatakan ‘Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia’. Pilihan diksi *menjunjung* itu penting karena persatuan bahasa bukan berarti penyeragaman,” ujar Ivan. Ia juga menekankan bahwa bahasa Indonesia memiliki posisi penghubung masyarakat dengan beragam bahasa daerah tanpa harus menghilangkan keberagaman tersebut. 

![](https://narabahasa.id/content/images/2026/11/image-4.png)

Berangkat dari gagasan tersebut, Ivan mengajak peserta menyadari kembali bahwa saat ini ruang tutur terbesar masyarakat global untuk berkomunikasi adalah media sosial. “Media sosial bukan hanya tempat bertukar informasi, melainkan juga tempat sumber pengetahuan, identitas, dan persepsi dibentuk,” ucapnya. 

Berikutnya, Ivan mengurai tiga peran bahasa Indonesia yang termuat dalam ruang digital tersebut. Peran pertama adalah *menyatukan*. “Bahasa Indonesia memungkinkan orang dari berbagai latar belakang dapat terhubung tanpa mengurangi ruang praktik bagi bahasa daerah. Sebab, keduanya memiliki peran yang saling melengkapi,” ucapnya. 

Berikutnya, bahasa Indonesia dapat *menjangkau* berbagai lapisan masyarakat melalui penerapan prinsip baik, benar, dan luwes. Peran ketiga, bahasa Indonesia *menggerakkan*. Ivan menjelaskan bahwa pilihan kata dapat memengaruhi pemahaman masyarakat terhadap suatu persoalan. 

![](https://narabahasa.id/content/images/2026/11/image-2.png)

**Bahasa Indonesia di Tengah Derasnya Komunikasi Digital**

Pada sesi pemaparan terakhir, Ivan mengajak peserta untuk tidak hanya tahu peran bahasa Indonesia, tetapi juga tantangannya pada ruang komunikasi digital. Ivan membaginya menjadi tiga tantangan, yakni 1) kecepatan tayang dapat mengorbankan keutuhan informasi, 2) keterhubungan yang luas justru memungkinkan perpecahan melebar, dan 3) kreativitas tetap membutuhkan tanggung jawab. “Pesan utamanya, generasi saat ini harus memastikan bahasa persatuan tetap hidup melalui percakapan karya dan tindakan di ruang digital,” pungkas Ivan. 

Anis mengalihkan kegiatan pada sesi diskusi. Dalam sesi ini, peserta lebih banyak membahas dinamika penggunaan bahasa gaul, campur kode, dan singkatan di ruang digital serta pentingnya memilih ragam bahasa yang sesuai dengan konteks tanpa mengabaikan prinsip bahasa yang baik, benar, dan luwes. 

Melalui kegiatan ini, Ivan mengaku bahwa dirinya memperoleh kesempatan untuk berbagi pandangan mengenai peran bahasa Indonesia yang sudah berusia seratus tahun. Selain itu, webinar ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penguatan bahasa Indonesia tidak cukup dilakukan melalui pemahaman kaidah, tetapi juga perluasan penggunaan bahasa yang memungkinkan bahasa Indonesia terus hidup mengikuti perkembangan zaman. 

Penulis: Jovita Dwi Swistika Murti

Penyunting: Rifka Az-zahra