Menutup Januari 2024, Basa-basi Bahasa kembali hadir, kali ini berkolaborasi bersama Silang.id. Silang.id adalah perusahaan rintisan ​​untuk aksesibilitas Tuli dengan fokus pada penyediaan layanan juru bahasa isyarat (JBI) secara luring dan daring. Narasumber episode ini adalah Bagja Prawira atau Kak Bagja, pendiri Silang.id yang ditemani oleh Mbak Annisa, moderator dari Narabahasa.

Kak Bagja bercerita tentang awal mula terbentuknya Silang.id. Ia memulainya bersama dua rekannya, Yusuf dan Hady. Pada 2017, Yusuf memiliki komunitas bernama YFD (Youth For Difabel) yang mencetuskan kelas bahasa isyarat pertama di Jakarta dan disambut antusias oleh masyarakat. Namun, komunitas tersebut sulit berkembang karena kendala operasi. Karena itu, Yusuf memutuskan untuk mengubah YFD yang bersifat sosial menjadi Silang.id yang bersifat bisnis. Perspektif disabilitas pun diubah dari sosial menjadi profesional. Hal ini sukses mengantarkan Silang.id sebagai penyedia jasa juru bahasa isyarat dan interpreter ke berbagai perusahaan.

Pada 2024, Silang.id mencetuskan slogan baru, yaitu #SemuaBisaAkses dengan menunjukkan inklusivitas dan aksesibilitas kepada Teman Tuli dan Teman Dengar dalam berbagai hal, kapan saja dan di mana saja. Silang.id juga menunjukkan kontribusi pada 75 komunitas Teman Tuli di Indonesia dalam kebutuhan mereka di berbagai bidang, seperti pembuatan riwayat hidup, cara wawancara yang baik, bahkan cara merapikan diri sebelum bekerja. Cara-cara ini dirangkum di aplikasi gawai Silang.id.

Tiga tahun ke belakang adalah tahun-tahun Silang.id dalam meningkatkan kesadaran tentang Teman Tuli. Tahun ini, Silang.id bertekad menjadi langkah baru inklusivitas bagi Indonesia. Silang.id berusaha untuk menjangkau pemerintah, perusahaan, komunitas, dan media agar meningkatkan aksesibilitas bagi Teman Tuli, seperti dengan menyediakan takarir bahasa Indonesia pada berbagai tayangan acara.

Banyaknya kemitraan Silang.id sekarang diharapkan dapat menjadi pintu bagi visi, misi, dan program Silang.id untuk menyentuh generasi-generasi masa depan. Itu agar semua orang mendapatkan akses yang sama dan tidak lagi merasa didiskriminasi, seperti yang pernah Kak Bagja alami.

 

Penulis: Maria Chivera

Penyunting: Rifka Az-zahra