> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Ivan Lanin Soroti Keberagaman Bahasa sebagai Identitas Kota dalam Festival Literasi Jakarta 2026
- URL: https://narabahasa.id/berita-kegiatan/ivan-lanin-soroti-keberagaman-bahasa-sebagai-identitas-kota-dalam-festival-literasi-jakarta-2026/
- Published: 2026-10-28T03:42:09.000Z
- Updated: 2026-10-28T03:42:09.000Z
- Author: Jovita Dwi Swistika Murti
- Tags: berita-kegiatan, berita

Menyambut Bulan Bahasa dan Sastra 2026, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta menggelar Festival Literasi Jakarta 2026 pada Sabtu, 17 Oktober 2026, pukul 13.00 s.d. 15.00 WIB, di Promenade dan Galeri Emiria Soenassa, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Festival yang bertajuk “Jakarta dalam Kata” ini diinisiasi sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Pusta Karsa (Perayaan Literasi, Kearsipan, dan Sastra) 2026\. Narabahasa turut meramaikan sebagai narasumber untuk menguatkan kembali kesadaran masyarakat dalam merawat keberagaman bahasa. 

Gelar wicara yang bertajuk “Merawat Keberagaman Bahasa sebagai Identitas Kota” ini dipandu oleh Katarina Wijayanti, Duta Bahasa DKI Jakarta 2020 yang kini bekerja di GovTech Indonesia. Selain Ivan Lanin, diskusi ini juga menghadirkan Fajar Mukti, komika jebolan Stand Up Comedy Indonesia musim ke-11 yang berlatar pendidikan bahasa dan sastra. 

Ketika diskusi dimulai, antusiasme peserta terlihat dari banyaknya mereka yang hadir hingga kursi yang disediakan tidak mencukupi. Meski berlangsung di area semiterbuka dengan udara yang panas, suasana diskusi tetap hidup. Pembahasaan dibuka dengan memotret keberagaman bahasa yang sudah berkelindan cukup lama di Jakarta. Katarina menyampaikan bahwa Jakarta adalah kota yang mempertemukan beragam bahasa daerah, bahasa gaul, hingga bahasa Indonesia yang bercampur dengan bahasa Inggris. Menanggapi fakta ini, Ivan berpendapat bahwa keberagaman tersebut tidak berarti bahwa penggunaan bahasa menjadi berantakan. 

“Sebaliknya, fenomena keberagaman itu justru menunjukkan bahwa hakikat bahasa yang dinamis akan terus berubah dan berkembang seiring dengan perjumpaan antarmasyarakat. Untuk itu, Jakarta dapat dikatakan sebagai kuali peleburan atau *melting pot*,” ujar Ivan. 

Jakarta sebagai pusat pertemuan antara bahasa dan budaya yang melahirkan perubahan, nyatanya bukanlah hal baru dalam sejarah perkembangan bahasa. Berangkat dari topik ini, Ivan memberikan contoh dari sejarah enam bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). “Misalnya, bahasa Spanyol yang menyerap kosakata dari bahasa Arab dan bahasa masyarakat pribumi Amerika. Bahasa Prancis juga pernah menjadi penanda prestise di kalangan bangsawan Rusia, sementara penggunaannya sebagai bahasa diplomasi internasional berkembang sebelum digunakan secara luas oleh masyarakat Prancis sendiri,” jelas Ivan.

Dari perkembangan sejarah bahasa tersebut, Ivan ingin memperlihatkan bahwa keberagaman bahasa yang terjadi di Jakarta dapat dipahami sebagai bagian dari dinamika masyarakat perkotaan yang terus berkembang. Untuk itu, perubahan dinamika penggunaan bahasa bukan semata-mata dimaknai sebagai penyimpangan kaidah berbahasa. 

Ivan juga turut menyoroti fenomena campur kode yang kerap ditemui dalam komunikasi masyarakat Jakarta. “Pilihan bahasa juga dipengaruhi oleh lingkungan, identitas sosial penutur, dan kebutuhan komunikasinya sehingga campur kode bukanlah suatu ancaman bagi bahasa Indonesia,” tuturnya. Dalam sesi ini, Ivan juga menambahkan bahwa penyesuaian penggunaan bahasa dengan lawan bicara dan situasi komunikasi justru menjadi penting. Ia memberikan tiga syarat komunikasi efektif, yakni ketepatan konteks, kesesuaian kaidah, dan keluwesan dalam menyampaikan tujuan komunikasi. 

Diskusi beralih pada upaya pelestarian bahasa daerah. Menurut Ivan, pelestarian tersebut tidak cukup melalui perayaan atau mendiskusikan tentang eksistensinya. “Bahasa perlu terus digunakan dalam berbagai lini kehidupan, mulai dari keluarga, pendidikan, masyarakat, dan teknologi. Apabila tidak diterapkan secara konsisten, keberlangsungan bahasa akan terancam meskipun masyarakat menganggap ada keberadaannya,” ujarnya. 

Pendapat tersebut sejalan dengan tulisan Ivan dalam WikiNusantara 2026, bahwa bahasa yang kehilangan ranah penggunaannya akan mengalami penyusutan. Oleh sebab itu, upaya efektif untuk melestarikan bahasa daerah adalah mengedukasi masyarakat untuk terus mempraktikkan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan mewariskannya ke generasi baru. 

Kehadiran Fajar Mukti mampu mencairkan suasana diskusi agar terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari peserta. Sementara itu, Katarina mampu mengarahkan diskusi dengan menghubungkannya pada berbagai fenomena. Diskusi berlangsung cukup interaktif, terlihat dari banyaknya peserta yang turut menyampaikan gagasannya. 

Gelar wicara ditutup dengan kesimpulan yang memuat tiga hal untuk menyikapi adanya keberagaman bahasa. Bahasa Indonesia perlu diutamakan sebagai bahasa persatuan; bahasa daerah harus terus digunakan agar pewarisannya tidak terputus; dan bahasa asing patut dikuasai untuk memperluas pengetahuan di tengah persaingan global. Ketiganya termuat dalam Tri Gatra Bangun Bahasa dengan fungsi dan tujuan yang berbeda. 

Melalui Festival Literasi Jakarta 2026 ini, Narabahasa berharap agar masyarakat makin menyadari bahwa keberagaman bahasa adalah bagian dari identitas kota yang perlu dirawat bersama. Dengan begitu, merawat keberagaman tidak akan berhenti pada perayaan seremonial, tetapi diwujudkan melalui penerapan bahasa dalam kehidupan nyata. 

Penulis: Jovita Dwi Swistika Murti

Penyunting: Rifka Az-zahra