Tahukah Kerabat Nara bahwa tanggal 6 Juni diperingati sebagai Hari Tempe Nasional?

Sejujurnya, saya baru mengetahuinya. Peringatan tersebut bertepatan dengan hari lahir Ir. Sukarno, Bapak Revolusi yang suka makan tempe. Terlebih, 6 Juni juga merupakan tanggal berdirinya Rumah Tempe Indonesia pada 1992.

Berbicara soal tempe, saya teringat akan sebutan mental tempe. Dalam KBBI V, mental tempe tergolong sebagai kiasan yang berarti ‘mental yang lemah (perasaan atau watak inferior yang menganggap bahwa dirinya tidak akan mampu untuk menghadapi masalah)’.

Lebih detailnya, apabila kita merujuk pada Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia (2010), mental tempe dapat dikategorikan sebagai kompositum atau kata majemuk semiidiomatis. Salah satu kata dalam kompositum tersebut memiliki makna khas, yakni tempe yang berkaitan dengan kelemahan.

Meskipun menyukai tempe, Sukarno pernah bilang, “Kami menggoyangkan langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita.”

Beliau mengibaratkan bangsa tempe sebagai bangsa kuli yang siap menerima perintah. Setelah itu, mental tempe makin populer digunakan, apalagi dengan mengingat  pembuatan tempe secara tradisional yang diterapkan melalui injakan.

Padahal, tempe adalah hidangan yang bermanfaat. Driando Ahnan-Winarno, seorang peneliti dan co-founder Tempe Movement, menulis bahwa “Berdasarkan jurnal penelitian yang dihimpun selama 50 tahun terakhir, terdapat tiga poin keunggulan tempe, yaitu dari segi nutrisi, keramahan terhadap lingkungan, dan keramahan terhadap dompet kita.” 

Tempe mengandung protein, serat, dan kalsium yang tinggi. Nilai lemak jenuh dan garam dalam tempe pun terbilang rendah. Bahkan, produksi tempe sangat ramah lingkungan. Jangan lupakan juga, di mata dunia, tempe telah dikenal salah satu hidangan yang menyehatkan dan dapat disajikan dengan beragam alternatif.

“Dari oseng-oseng sampai keripik, dari tempe balok sampai sayur lodeh, dari tempe mendoan sampai isian arem-arem, tempe bisa menjelma jadi apa pun yang bikin lidah menari,” tulis Gisela Swaragita dalam “Tidak Malu Bermental Tempe”.

Mungkin, sudah saatnya kita memaknai mental tempe dengan perspektif yang berbeda. Tempe adalah makanan Indonesia yang sarat nutrisi dengan cara produksi yang ramah lingkungan. Tempe dapat dibeli dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan dengan daging. Namanya pun menggema di kancah internasional.

Mental tempe adalah mental yang kuat dan sehat.

 

Rujukan:

 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin