Barangkali kita sudah sering menggunakan atau mendengar kata si dan sang. “Si kancil anak nakal/ Suka mencuri timun/ Ayo lekas dikurung/ Jangan diberi ampun” adalah salah satu lirik lagu yang menggunakan kata si. Ada juga lagu yang menggunakan sang di dalam lirik lagu, seperti “Sang Bango” gubahan Benyamin Sueb.

Si dan sang tergolong ke dalam kata tugas artikula. Sebagai pembatas nomina, artikula berdasarkan sifatnya digolongkan lagi menjadi tiga macam, yaitu artikula yang bersifat gelar, yang mengacu pada makna kelompok, dan yang menominalkan.

 

Artikula yang Bersifat Gelar

Artikula ini menandakan seseorang atau hal yang memiliki martabat. Empat contoh artikula yang dapat mencirikan gelar adalah sang, sri, hang, dan dang

Kata sang umum digunakan untuk meninggikan martabat manusia atau benda unik. Lebih dari itu, seperti dalam lirik “Sang Bango”, sang juga dapat dimanfaatkan untuk bergurau dan menyindir. Terlebih, Kridalaksana dkk. mengutarakan bahwa sang dapat menandakan personifikasi, seperti sang merah putih dan sang saka

Sementara itu, kata sri menunjukkan gelar orang yang bermartabat tinggi dalam keagamaan atau kerajaan. Contohnya adalah Sri Baginda dan Sri Ratu. Kemudian dalam sastra lama, kata hang dan dang sering digunakan untuk menandakan laki-laki serta perempuan yang terhormat.

 

Artikula yang Memaknai Kelompok

Artikula yang mencerminkan makna kelompok adalah para. Oleh karena kata itu sudah menegaskan makna kolektif, nomina yang mengiringinya tidak perlu mengalami pengulangan. Contohnya adalah para guru, bukan para guru-guru.

Perlu diingat, berdasarkan pemaparan Moeliono dkk. dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat (2017), umat dan kaum bukanlah artikula, melainkan nomina. Namun, pendapat lain dikemukakan oleh Kridalaksana dkk. dalam Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia: Sintaksis (1985). Menurut mereka, umat dan kaum termasuk ke dalam artikula.  

 

Artikula yang Menominalkan

Artikula si, selain berfungsi sebagai penanda gelar, dapat pula berdiri sebagai pembentuk nomina, seperti si miskin atau si terdakwa. Lebih dari itu, yang pun dapat berposisi sebagai artikula yang menominalkan suatu unsur. Contohnya adalah yang terhormat, yang ini, dan yang berkepentingan.

 

Rujukan:

  • Kridalaksana, Harimurti, dkk. 1985. Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia: Sintaksis. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Moeliono, Anton M., dkk. 2017. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin