> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Awas Tertukar!
- URL: https://narabahasa.id/artikel/linguistik-umum/kata/awas-tertukar/
- Published: 2022-03-31T11:00:25.000Z
- Updated: 2024-06-28T05:33:45.000Z
- Author: Narabahasa
- Tags: kata, #local, linguistik-umum, ejaan, makna, #Import 2026-10-23 19:03

Banyak sekali kata dalam bahasa kita. Terkadang, kita kebingungan untuk menentukan bentuk [baku](https://narabahasa.id/artikel/linguistik-umum/kata/kata-baku-dan-nonbaku-dalam-kamus-besar/) dan takbaku. Selain itu, tantangan lainnya ialah bahasa Indonesia memuat beberapa kata yang mirip dengan arti yang betul-betul berbeda.

Contohnya adalah *tebersit* dan *terbesit*. Penempatan konsonan *r* dalam dua kata tersebut ialah kunci penentuan maknanya. *Tebersit* berarti ‘terpancar samar-samar’ atau ‘tersiar (tentang kabar dan sebagainya secara samar-samar)’, sedangkan *terbesit* adalah ‘terharu; iba; rawan’. Perlu kita ingat, *terbersit* tidak tercantum dalam KBBI.

Seorang teman saya juga pernah keblinger dengan kata *figura* dan *pigura*. Yang pertama berasal dari Melayu Manado dan berarti ‘perayaan akhir tahun di Manado, berupa pawai berkeliling kampung, diikuti oleh laki-laki yang berdandan seperti perempuan dan perempuan berdandan seperti laki-laki’. Sementara itu, *pigura* adalah gambar atau lukisan yang berbingkai.

Perbedaan makna dalam *figura* dan *pigura* merupakan kasus pasangan minimal, yakni perbedaan satu fonem yang membedakan makna kata. Hal ini dapat kita temukan pula pada kata *ka* ***u*** *s-ka* ***o*** *s*, *ha* ***r*** *i-ha* ***t*** *i*, dan *asa* ***m*** *\-ata* ***p***.

Selain itu, beberapa dari kita mungkin pernah juga luput mengecek makna suatu kata dalam kamus. Coba perhatikan dua contoh berikut.

1. Aku tidak menyukai sifatnya. Makanya aku *acuhkan* saja dirinya.
2. Pada kuliah hari ini, Azwar lupa mengisi daftar *absen*.

Sekilas contoh pertama terasa baik-baik saja. Namun, jika diselisik lebih jauh, *acuh* bermakna ‘peduli’ atau ‘mengindahkan’. Dengan demikian, dua kalimat dalam contoh pertama menjadi tidak logis. Kemudian, pada contoh kedua, kata *absen* tidaklah tepat. *Absen* mengartikan ‘tidak masuk (sekolah, kerja, dan sebagainya); tidak hadir’. Kata yang lebih tepat untuk mengakhiri kalimat nomor dua adalah *presensi* yang bermakna ‘kehadiran’.

Tanpa disadari, kita pernah salah tulis atau salah berbicara seperti dalam kasus *tebersit* dan *terbesit*, *figura* dan *pigura*, serta *acuh* dan *absen*. Tidak apa-apa. Ke depannya, rajin-rajinlah untuk membuka kamus dan mengecek ejaan serta makna suatu [kata](https://ivanlanin.medium.com/siapa-yang-boleh-membuat-kata-baru-f266133717c2?ref=narabahasa.id).

#ejaan #pasanganminimal #makna

**Penulis:** Yudhistira

**Penyunting:** Ivan Lanin

[ejaan](http://127.0.0.1:8081/tema/ejaan/?ref=narabahasa.id)[kata](http://127.0.0.1:8081/tema/kata/?ref=narabahasa.id)[makna](http://127.0.0.1:8081/tema/makna/?ref=narabahasa.id)