Dalam Kompas 3 April 2022, Alissa Wahid menulis sebuah opini berjudul “Alasan atau Alasan”. Saya memang sudah pernah membaca tulisan-tulisan beliau. Namun, judul yang satu ini betul-betul memikat perhatian saya.

Pada opini tersebut, sang penulis mengutip ujaran yang dia dengar dari seorang pembicara di suatu pelatihan kepemimpinan: you either have reasons for success or you have excuses for failure. Alissa Wahid menggarisbawahi dua kata penting, yaitu reasons dan excuses. Menurutnya, reason dan excuse memiliki watak yang berbeda. Reason adalah daya dorong bagi seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai atau mewujudkan sesuatu. Orientasinya merupakan masa depan. Sementara itu, excuse adalah justifikasi atas sesuatu yang tidak terwujud, sesuatu yang gagal. Pengertian ini selaras dengan definisi excuse dalam kamus Merriam-Webster, yakni ‘justification’ dan ‘reason’. Berbeda dengan reason, Alissa Wahid menilai excuse berorientasi pada masa lalu.

Menariknya lagi, Alissa Wahid memperkenalkan satu konsep yang dia kutip dari David Schwartz, seorang penulis asal Amerika Serikat kelahiran 1927. Excuse adalah radang alasan, yakni penyakit yang membuat penderitanya memiliki kebiasaan untuk mencari alasan atas ketidakmampuannya. Boleh dibilang, excuse merupakan alasan yang dibuat-buat. Dalam bahasa Indonesia, kita punya kata dalih yang bermakna ‘alasan (yang dicari-cari) untuk membenarkan suatu perbuatan’.

Kita bisa lihat bahwa alasan dan dalih—sebagai padanan dari reason dan excuse—juga memiliki watak yang berbeda. Alasan itu organik, sedangkan dalih dibuat-buat. Ternyata, definisi alasan yang dibuat-buat ini juga terdapat pada beberapa kata lain. Bahasa Indonesia mempunyai kata kilah yang salah satu maknanya ialah ‘dalih; alasan (yang dibuat-buat)’. Kata turunannya, berkilah, bermakna ‘berusaha memutarbalikkan kebenaran (dengan menyangkal dan sebagainya); mencari-cari alasan’. Lalu, ada pula kata kelit dengan kata turunan berkelit. Sebagai kiasan, berkelit memiliki arti ‘berdalih; beralasan (yang dibuat-buat)’.

Pertanyaannya, mengapa alasan tidak punya sinonim lain yang sewatak atau satu sifat dengannya? Apakah, jangan-jangan, karena kita memang sudah terlalu sering berdalih, berkilah, dan berkelit?

#alasan #dalih

Rujukan: Wahid, Alissa. 2022. “Alasan atau Alasan”. Kompas. Diakses pada 6 April 2022.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin