Kerabat Nara mungkin pernah mendengar sebuah kiat menulis berbunyi Show, don’t tell. Saya belum menemukan terjemahan yang enak selain ‘Tunjukkanlah, alih-alih mengatakannya’. Sebetulnya, siapa yang pertama kali mencetuskan kiat itu dan apa maksudnya?

Ternyata, saran atau kiat tersebut merupakan modifikasi dari surat Anton Chekhov, seorang penulis asal Rusia yang lahir pada 1860, kepada adiknya. Chekhov berpesan kepada adiknya: “In descriptions of Nature one must seize on small details, grouping them so that when the reader closes his eyes he gets a picture. For instance, you’ll have a moonlit night if you write that on the mill dam a piece of glass from a broken bottle glittered like a bright little star, and that the black shadow of a dog or a wolf rolled past like a ball.” Pesan tersebut kemudian populer sebagai saran kepada siapa pun yang ingin belajar menulis, yakni “Don’t tell me the moon is shining; show me the glint of light on broken glass.

Buat saya, Show, don’t tell adalah teknik menulis dengan gaya pengungkapan deskripsi. Intinya ialah merangsang pembaca untuk mengoptimalkan indra mereka ketika membaca tulisan kita. Alih-alih memaparkan sesuatu dengan detail dan apa adanya, kita bisa menunjukkan kepada pembaca lewat cara yang lebih memukau. Bulan memang bersinar, tetapi kita bisa menunjukkannya dengan menulis “Pecahan kaca memantulkan terangnya sinar rembulan.” Itulah yang hendak Chekhov sampaikan.

D.M. Johnson (2015) menyatakan bahwa menunjukkan (showing) adalah demonstrasi, peragaan, atau dramatisasi tentang proses suatu peristiwa dapat terjadi. Johnson juga melihat saran Chekhov sebagai sebuah kalimat deskriptif yang menyiratkan tiga hal, yakni (1) hari sudah malam dan bulan bersinar terang, (2) adegan terjadi di luar ruangan, serta (3) suatu peristiwa telah terjadi sehingga terdapat pecahan kaca.

Demikianlah makna di balik kiat Show, don’t tell. Saya sudah lama mendengar dan mengetahui kiat itu. Namun, saya baru sadar betapa bergunanya saran tersebut ketika sedang membaca salah satu cerpen Dony Iswara berjudul “Kusut” di dalam buku Seekor Anjing Ditabrak Honda Astrea Dini Hari Tadi (2019). Sang penulis dapat menunjukkan karakter, latar tempat, dan latar suasana lewat satu kalimat pembuka: “Gemerincing lonceng kecil terdengar saat Lia membuka pintu toko buku itu dengan sedikit tergesa.”

Luar biasa, ‘kan?

 

Rujukan:

 

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin