Sewaktu saya kecil, Kakek kerap berbagi cerita tentang pengalamannya selama menjadi tentara. Salah satu yang membekas dalam ingatan saya adalah kecelakaan yang dialami oleh teman Kakek. Pada suatu kali, ketika sedang latihan, temannya itu terpental dari tank. Ia jatuh tepat di depan kendaraan raksasa tersebut. Alhasil, kejadian nahas pun tidak terhindarkan. Kepala teman Kakek remuk digilas roda tank. Hingga kini, itu adalah cerita nyata terngeri yang pernah saya dengar. Meskipun tidak menyaksikan peristiwa itu secara langsung, saya turut merasakan ketegangan dan keharuan yang terjadi.

Makin saya besar, makin banyak cerita yang masuk ke kepala dan hati, baik melalui indra penglihat maupun pendengar. Kecerdikan, kesepian, pertemanan, dan percintaan Chairil Anwar, seorang penyair besar Indonesia, misalnya, saya nikmati dengan membaca buku Chairil susunan Hasan Aspahani. Pada lain kesempatan, saya terenyuh mengikuti kebaikan Oskar Schindler dalam film Schindler’s List buatan Steven Spielberg. Saya pun larut dalam konflik batin Raskolnikov, tokoh utama novel Crime and Punishment karya Fyodor Dostoevsky. Tidak hanya dari buku dan film, cerita juga mengaduk-aduk perasaan ketika saya mendengar album Metropolis Pt. 2: Scenes from a Memory dari Dream Theater.

Cerita menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup saya dan mungkin juga Kerabat Nara. Bahkan, dapat dikatakan bahwa, sedikit banyak, cerita telah membentuk cara pikir dan pandang kita terhadap dunia.  Ketika mendengar atau membaca sebuah cerita, kita kadang merasa bahwa ada kesamaan yang muncul, baik dari segi tokoh, konflik, alur, tempat, maupun suasana. Jika kesamaan itu tidak ada pun, kita masih bisa turut sedih, senang, kagum, marah, dan sebagainya. Kalau ada ungkapan yang menyatakan bahwa buku adalah jendela dunia, cerita itulah jendela kemanusiaan, sarana bagi kita untuk becermin atau menyegarkan mata hati.

Dalam dunia praktis, cerita ternyata juga mempunyai pengaruh yang sangat besar. Lindawati (2018) dalam “Kekuatan Cerita dalam Bisnis Sosial” menyebutkan bahwa cerita adalah roh yang mampu memberdayakan dan meningkatkan kepedulian sesama dalam urusan bisnis. Para pengusaha sosial (sociopreneur) menggunakan cerita untuk menunjukkan manfaat dan nilai dari bisnis yang dijalaninya. Selain itu, cerita juga dapat menghadirkan inspirasi, menegaskan misi sosial, dan mengajak orang lain untuk bergerak bersama. Strateginya ada tiga: (1) penceritaan yang memanfaatkan data sebagai bahannya (data driven storytelling), (2) penceritaan yang mengandalkan kisah di belakang layar dari suatu perusahaan (philanthropic storytelling), dan (3) penceritaan yang menunjukkan kesuksesan pelanggan (customer-led storytelling).

Lantas, kita mungkin bertanya: Mengapa bisnis memerlukan cerita? Sebabnya adalah efektivitas pesan persuasif yang disampaikan melalui iklan konvensional cenderung menurun. Selain itu, perusahaan yang menggunakan cerita dalam pemasarannya terbukti mampu meningkatkan nilai barang atau jasanya sebesar dua puluh kali lipat (Lindawati, 2018).

Sementara itu, menurut Novitriami dan Hastjarjo (2015), cerita dapat meningkatkan komitmen afektif (affective commitment), yaitu kedekatan emosional karyawan terhadap perusahaan atau organisasi tempat ia bekerja. Pada soal tersebut, cerita yang dimaksud adalah cerita kesuksesan perusahaan. Dengan menceritakan itu, pimpinan dapat menguatkan rasa kepemilikan terhadap perusahaan dalam diri karyawannya. Karyawan akan makin memahami nilai-nilai yang diusung oleh perusahaan.

Makin ke sini, memang makin banyak pihak yang menyadari bahwa cerita merupakan unsur penting dalam berbagai keperluan. Dalam perpelancongan, misalnya, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggagas storynomics tourism—yang mungkin bisa kita sebut sebagai penceritaan turisme. Mereka berkeinginan untuk mengembalikan geliat perekonomian masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19 dari sektor wisata. Oleh karena itu, mereka memerlukan pendekatan baru yang dapat menarik wisatawan, yaitu menyuguhkan cerita-cerita dari tempat wisata dan kebudayaan di sekitarnya. 

Berdasarkan penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa cerita mempunyai manfaat yang tidak main-main besarnya. Oleh karena itu, ada baiknya, kebermanfaatan cerita atau bercerita diajarkan sejak dini kepada anak-anak. Kushartanti (2007) menerangkan bahwa, dalam pemerolehan bahasa pada anak, mendengarkan cerita dapat memperkaya perbendaharaan kata. Sementara itu, bercerita melatih anak-anak untuk mengolah pengalaman mereka. Lebih lanjut, Kushartanti menyatakan, “Melatih anak untuk bercerita berarti melatih mereka untuk berani berbicara di depan orang lain.”

Dengan demikian, cerita hendaknya tidak dianggap sebagai angin lalu. Bercerita pun sepatutnya tidak dipandang sebagai kegiatan yang sia-sia. Sebabnya, cerita mampu menghubungkan hati dan pikiran antarmanusia. Cerita mengasah kepekaan kita terhadap berbagai fenomena. Pada akhirnya, cerita menyatukan kita.

Rujukan:

  • Kemenparekraf/Barekraf RI. 2021. “Mengenal Storynomics Tourism, Gaya Baru Mempromosikan Pariwisata”. Diakses pada 11 November 2021. 
  • Kushartanti. 2007. “Strategi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Dasar: Peran Guru dalam Menyikapi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan”. Wacana 9:1, 107—117.
  • Lindawati, Lisa. 2018. “Kekuatan Cerita dalam Bisnis Sosial”. Jurnal Studi Pemuda 7:2, 100—110.
  • Novitriami, Yayik dan T. Dicky Hastjarjo. 2015. “Meningkatkan Komitmen Afektif melalui Cerita Sukses Organisasi”. Gadjah Mada Journal of Professional Psychology 1:1, 18—32.

#penceritaan 

 

Penulis : Harrits Rizqi

Penyunting : Ivan Lanin