> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Berayun di Antara Keberpihakan dan Autokritik: Menimbang Ulang Keberlanjutan Kritik Sastra Indonesia
- URL: https://narabahasa.id/all/berayun-di-antara-keberpihakan-dan-autokritik-menimbang-ulang-keberlanjutan-kritik-sastra-indonesia/
- Published: 2026-10-20T05:08:00.000Z
- Updated: 2026-10-24T05:09:45.000Z
- Author: Narabahasa

Menyambut perayaan Bulan Bahasa dan Sastra 2026, Narabahasa menyelenggarakan program rutin Kicauan Narabahasa (Kinara) bertajuk “Kritik Berkualitas Makin Langka atau Kritikus Sastra Mulai Punah?”. Selaras dengan tema “Kanan Kiri Bahasa”, Kinara kali ini menghadirkan kritikus sastra Dewi Anggraeni sebagai narasumber. Episode yang dipandu oleh Jovita Dwi sebagai moderator ini dilaksanakan pada Sabtu, 17 Oktober 2026, pukul 19.00 s.d. 20.00 WIB secara daring melalui Zoom setelah sebelumnya hanya dilakukan melalui Spaces X. 

*Berayun di Antara Keberpihakan dan Autokritik* merupakan antologi esai kritik sastra yang ditulis oleh Dewi, seorang akademisi sastra Jepang yang mencoba mencemplungkan sebelah kakinya ke dalam kolam sastra Indonesia. Buku setebal 176 halaman ini diterbitkan oleh Pustaka Anagram pada Februari 2023 dan dicetak ulang pada Mei 2026\. 

Dalam diskusi tersebut, Dewi mengungkapkan bahwa salah satu motivasinya menyusun buku ini adalah untuk mengalihkan perhatian dari rasa frustrasi saat mengerjakan disertasi. “Sejujurnya, saat itu saya frustrasi mengerjakan disertasi sehingga menulis esai untuk menjadi pengalih perhatian. Selain itu, saya juga ingin berkontribusi bagi kemajuan sastra Indonesia,” ungkapnya. 

Melalui buku ini, Dewi ingin berpendapat bahwa kritik sastra tidak dapat dilepaskan dari keberpihakan dan perlu disertai dengan autokritik pengarangnya. Hal itu ia selaraskan dengan pendekatan sastra yang memberikan perhatian lebih pada kelompok marginal dan tertindas sehingga keberpihakan perlu dilakukan. “Kecenderungan tersebut justru mengingatkan kita bahwa keberpihakan perlu disertai autokritik, yakni kesediaan untuk meninjau kembali pemikiran dan perangkat sastra yang digunakan,” jelasnya.

Diksi *keberpihakan* dan *autokritik* pada judul buku ini mencerminkan sikap terbuka terhadap peninjauan ulang. “Kritik sastra perlu bergerak, seperti pendulum yang berayun di antara keberpihakan dan autokritik,” ujar Dewi. Baginya, kritikus sastra tidak boleh bersikap netral. Mereka harus membuka ruang untuk terus mempertanyakan apakah pendekatan dan gagasan yang digunakannya sudah tepat atau belum. 

Dalam menghasilkan kritik sastra yang berkualitas, pembaca perlu memahami keseluruhan karya sebelum menentukan teori atau pendekatan yang ingin digunakan. “Kesalahan umum adalah dengan memilih teori terlebih dahulu. Padahal, teori hanya digunakan sebagai alat bantu membaca karya. Untuk itu, penelusuran konteks sosial dan budaya, penelitian terdahulu, serta pembentukan argumentasi yang kuat menjadi bagian terpenting dalam menulis kritik sastra,” ungkap Dewi. 

Diskusi beralih dengan membahas perkembangan kritik sastra Indonesia. Dewi menilai bahwa masalahnya bukan pada kelangkaan kritik berkualitas, melainkan keterbatasan ruang publikasi dan sulitnya menemukan tulisan yang bermutu pada era canggihnya teknologi informasi. “Kritik sastra berkualitas itu masih ada, tetapi memang tidak banyak. Kritik sastra saat ini justru berlangsung secara linear sehingga pembacaan terhadap karya masa kini perlu dilengkapi dengan arsip sejarah kritik sastra yang telah berkembang sebelumnya,” jelas Dewi menanggapi arsip kritik sastra. 

Dewi turut menyoroti menyusutnya kritik sastra saat ini karena tergesernya makna *kritik* yang kini dianggap sebagai sesuatu yang menjatuhkan. “Padahal, kritik merupakan bagian dari dialog sastra untuk membantu pembaca memahami karya dari berbagai sudut pandang,” ucapnya. Ia juga mengapresiasi generasi muda yang kini telah berani membagikan ulasan buku melalui media sosial. “Sebab, menjadi pembaca yang kritis merupakan langkah awal untuk menjadi kritikus sastra,” pungkasnya. 

Kinara episode spesial ini ditutup dengan sesi foto bersama melalui tangkapan layar. Melalui Kinara bersama Dewi Anggraeni, Narabahasa ingin mengajak peserta melihat kritik sastra sebagai ruang dialog yang menghadirkan keterbukaan untuk meninjau ulang gagasan dan perangkat sastra yang digunakan dalam sebuah karya. Sebab, kritik sastra bukan sekadar apresiasi terhadap karya, melainkan penelitian sastra untuk menghadirkan sudut pembacaan yang berbeda. 

Penulis: Jovita Dwi Swistika Murti

Penyunting: Rifka Az-zahra